.

Showing posts with label Cinta Kasih. Show all posts
Showing posts with label Cinta Kasih. Show all posts

Tuesday, September 22, 2015

Cara seorang suami yang mengenang mendiang istri akan membuat kita terharu

Kehilangan anggota keluarga tentu saja menjadi suatu momen yang sangat pedih bagi yang harus mengalaminya. Akan tetapi, pria ini memilih untuk terus melanjutkan kehidupannya dengan seorang putrinya yang berusia 3 tahun.

Dilansir Stomp, Sabtu (19/9/2015), Pria tersebut adalah Rafael Del Col.


Istrinya, Tatiane mengembuskan napas terakhir dalam kecelakaan mobil pada tahun 2011 dan meninggalkan dirinya bersama putrinya yang masih berumur 1 tahun, Raisa. Meski begitu, rasa cinta Rafael terhadap istinya tak berkurang sedikit pun.

Rafael mengakui bahwa ia sangat kesulitan pada awalnya semasa menghadapi cobaan atas kehilangan Tatiane setelah 10 tahun bersama.

Ia harus mencari bantuan untuk mengatasi kendala menjadi seorang ayah sekaligus ibu bagi Raisa sambil merasakan kesedihan yang mendalam.



Untuk mengenangnya, Rafael dan Raisa baru-baru ini melakukan pemotretan bersama di mana putrinya berpose sama seperti ibunya saat masih hidup.

Menggunakan seluruh properti yang sama seperti sepatu dan aksesoris bahkan anjing peliharaan hadiah kencan Rafael pada istrinya pada sesi pemotretan kali ini.

Rafael terlihat sangat tampan sedangkan Raisa juga telah tumbuh menjadi gadis cilik yang mirip dengan ibunya.



Rafael mengatakan sangat puas dengan hasil pemotretan ini. Walaupun setiap saat melihat hasilnya dia masih akan terisak dan menangis akan memori Tatiane.

Rafael, bukan hanya anda yang menangis karena kami yakin pembaca juga harus menyiapkan tissue ketika melihat hasil jepretan yang berkesan ini.

Saturday, July 4, 2015

Kisah Cinta sehidup semati


Pelukan penuh kasih terakhir dari sepasang kekasih yang telah menikah selama 75 tahun. Jeanette Toczko, perempuan berusia 96 tahun dan Alexander Toczko, berusia 95 tahun, terekam dalam sebuah foto saling berpelukan ketika maut secara perlahan menjemput mereka berdua.

Momen yang sangat menyentuh ini merangkum seluruh kebersamaan mereka selama lebih dari 85 tahun, saat mereka mulai berpacaran pada usia delapan tahun, tumbuh dewasa dan menikah dan akhirnya menjadi tua.

Alexander mengalami penurunan kesehatan drastis akibat penyakit tulang pinggul sementara kesehatan istrinya juga ikut menurun. Dengan kesehatan keduanya yang makin memburuk, mereka bersumpah untuk meninggal bersama "di ranjang mereka sendiri, sambil bergenggaman tangan dan berpelukan".

Akhirnya, pada 17 Juni 2015, Alexander meninggal dalam pelukan istrinya, persis seperti yang mereka inginkan. Beberapa jam kemudian, Jeanette ikut menyusul suami tercintanya ke alam baka. Kedua pasangan yang saling mencintai ini akhirnya meninggal dunia dalam rentang waktu kurang dari 24 jam.

Thursday, July 2, 2015

Sang Miliader, Merawat Sendiri Istri Selama 25 Tahun


Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang tokoh di balik kemajuan industri reksadana di Indonesia sekarang ini, juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini. Ia tergolong miliader.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan, pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini, bukan hendak menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi, kesehariannya yang luar biasa.
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja, bahkan sudah mendekati malam. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Cobaan menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan TV, agar tidak merasa kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara, selalu hanya terlihat senyum. Untunglah kantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya untuk makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun.

Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah. Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya – karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing – Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu: semua anaknya dapat berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, si anak sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang.

“Sudah ke empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti ini, kami tidak tega melihat bapak, kami berjanji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian,” tambah si melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku… Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian." Sejenak kerongkongannya tersekat.

"Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, tidak satu pun dapat dihargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga menyaksikan butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, yang dengan pilu menatap mata suami yang sangat dicintainya. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta di Jakarta untuk menjadi narasumber. Host mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa? Di saat itulah meledak tangis Pak Suyatno, bersama tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.

Pak Suyatno bercerita: “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinan tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semua itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, yang sewaktu sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan dengan mata. Dia memberi saya empat anak yang lucu-lucu. Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Jika dia sehat pun, saya belum tentu mau mencari penggantinya, apalagi dia sakit,” katanya sembari berurai air mata.

Setiap malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas saja. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan kepada Allah.

Sunday, March 29, 2015

Tips Dalam Berpacaran Tetap Langgeng


Dalam sebuah hubungan pastinya ada rasa bahagia dan duka, sama dengan hubungan dengan pacar yang tidak selalu romantis setiap waktu, ada saatnya sebuah hubungan akan renggang karena suatu masalah, justru dengan adanya masalah-masalah itulah maka hubungan di uji, apakah akan bertahan atau malah bubar.

Pacaran adalah bertemunya dua sifat ego yang berbeda dan karena itu rasa cinta harus lebih besar dari ego kedua belah pihak.

Ketika kita memutuskan untuk saling mencintai, maka kita harus siap menghadapi rintangan dan hambatan dalam menjalani hubungan bersama pacar. Bagaimana anda dan pasangan menyelesaikan sebuah masalah yang terjadi untuk kelanggengan anda dan pasangan dalam menjalani hubungan.

Berikut ini beberapa tips bagaimana agar hubungan anda tetap awet dan langgeng dengan pacar meskipun masalah selalu datang dalam hubungan anda berdua :

1. Saling Memahami
Ke-egoisan manusia tidak akan bisa dikalahkan oleh makhluk lain di dunia ini. Wajar saja jika dalam berpacaran anda sering bertengkar dengan pasangan. Apabila dalam sebuah hubungan tidak ada salah satu pihak yang meredam ego dan tetap mempertahankan ego masing-masing hubungan takakan langgeng. Dalam hal ini kedua belah pihak harus belajar menahan ego dan harus saling memahami satu sama lain. Karena sebuah masalah dan ego yang dimiliki akan membuat anda mengerti dan belajar untuk menyelesaikan masalah dengan akal dingin.

Jika pacar anda sibuk atau lupa terhadap sesuatu, cobalah untuk mengerti dan memahami, kemungkinan dia sedang konsentrasi dengan pekerjaannya, jangan berpikiran negatif dan cemburu. Berpikirlah positif dan berniat untuk membahagiakan pasangan anda. Dengan sikap seperti ini maka hubungan dengan pacar akan awet dan langgeng.

2. Saling Percaya
Terkadang rasa curiga membuat anda sulit mempercayai orang lain. sikap seperti ini adalah penganjal bagi hubungan bersama pasangan anda. Anda akan membuang-buang waktu saja, jika anda belum bisa membuang rasa curiga terhadap orang lain, apalagi terhadap pacar sendiri.

Jadikan rasa cemburu dan perasaan takut di khianati sebagai bumbu percintaan anda. Berikan pacar anda kepercayaan untuk menjalani kehidupan pribadinya sendiri maka dia pun akan percaya kepada anda. Hal ini akan menimbulkan tanggung jawab pada diri anda dan pacar anda, yang akan membuat hubungan anda lebih romantis.

3. Komunikasi
Dalam sebuah hubungan anda membutuhkan komunikasi. Jika anda dan pacara anda ingin hubungan langgeng jagalah komunikasi, meskipun anda pacaran jarak jauh sekalipun. Jarak bukanlah sebuah halangan untuk selalu memberikabar kepada pasangan anda agar tidak khawatir, berilah sedikit waktu untuk memberikan perhatian sesibuk apapun anda.

Komunikasi yang baik akan membuat hubungan lebih terbuka, hubungan anda akan tenang dan tidak tegang, maka dalam hubungan anda akan saling percaya.

4. Saling Jujur
Kunci dalam sebuah hubungan adalah saling percaya, dan kunci mejaga kepercayaan adalah saling jujur. Jika anda sedang memiliki masalah jujurlah apa adanya ke pasangan anda. Berbohong, menutup diri, tidak mau berdiskusi akan membuat hubungan anda tidak akan awet.

Jika anda memiliki keluhan terhadap pacar anda yang tidak disukai, utarakan saja dengan jujur dan bijaksana. inti dalam sebuah hubungan adalah kejujuran, tanpa kejujuran dalam hubungan yang anda bangun makan akan sia-sia saja.

5. Bersikap Romantis
Semua orang senang dengan hal yang romantis meskipun tidak mewah.. Buatlah hati pacar anda senang, berikan sebuah kejutan-kejutan kecil yang romantis, jadikan sebuah kenangan manis. Meskipun perhatian yang anda berikan sangat kecil pada pacar anda, bila tulus hati maka akan membuat kesan yang membekas dan tidak akan dilupakan. Sehingga membuat pasangan anda akan semakin mencintai anda dan membuat hubungan anda akan semakin langgeng.

Demikian tips bagaimana agar hubungan dengan pacar tetap langgeng. Diskusikan tips-tips dengan pacar anda, saling belajar dan mempraktekannya, maka hubungan anda dan sang pacar akan semakin langgeng.

Wednesday, January 21, 2015

Kasih sayang besar dari Ibu yang berjiwa besar



Kasih sayang besar dari Ibu yang berjiwa besar

Xu Yuehua, seorang wanita tanpa kaki yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sebuah yatim piatu di China, sungguh perkerjaan yang luar biasa. Dulunya Xu Yuehua adalah seorang gadis kecil yang normal seperti teman-temannya. Sampai pada suatu saat, waktu mengumpulkan batubara di rel kereta api. dan sebuah kecelakaan kereta api membuat Xu kehilangan kedua kakinya pada usia 13 tahun. Tidak ada kaki di usia yang sangat muda mungkin bagai dunia telah berakhir bagi Xu yuenhua. Apalagi Xu Yuehua saat itu adalah yatim piatu. Tidak semua orang bisa menghadapi kenyataan hidup ini.

Di saat-saat rasa frustasi menyelimutinya, Xu Yuehua segera sadar untuk menjadikan hidup dan tubuhnya berguna untuk sesama selama dia diberi kesempatan hidup di dunia. Ia telah merasakan waktu kecil sebagai yatim piatu dulu, dan dengan mengandalkan dua kursi kayu pendek untuk menyangga tubuhnya dan untuk berjalan, Xu melanjutkan hidupnya dengan tujuan dan semangat yang mulia, yaitu mengasuh dan membesarkan anak-anak yatim piatu .

Di Xiangtan Social Welfare House yang membantunya melalui masa-masa sulit ini Xu menemukan panggilannya. Saat ini, Xu telah menjalani 37 tahun merawat anak-anak yatim piatu di lembaga kemanusiaan ini. Dengan keterbatasannya, sudah 130 anak yang dibesarkan Xu. Memang tidak mudah untuk berpindah dari ranjang yang satu ke ranjang lain menggunakan bangku pendek. Belum lagi saat harus menyusui, meredakan tangisan bayi yang rewel dan mengajak mereka bermain. Namun wanita yang disebut ‘The Stool Mama” ini melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya.

Dengan melakukan yang terbaik, satu per satu kekhawatiran dalam kehidupan Xu Yuehua seakan dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Pada tahun 1987, Xu menikah dengan Lai Ziyuan, seorang petani sayur di panti asuhan yang sama dan melahirkan anak laki-laki, Lai Mingzhi, tiga tahun kemudian. Xu mengaku sangat bahagia dengan hidup dan pengabdiannya.

Dalam benaknya, cacat fisik bukanlah menjadi batasan ataupun halangan seseorang untuk melakukan sesuatu dan berbagi demi mengurusi orang lain. Bahkan dengan kerendahan hatinya yang sangat tulus, perempuan tersebut mengatakan, dirinya bukanlah orang hebat. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk memberikan kasih sayang seorang ibu. Untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung, karena telah kehilangan orang tua.

Ia telah merasakan kehilangan kedua orangtuanya sejak masih kecil. Mulai saat itulah, dirinya dirawat di Rumah Yatim Piatu Xiantan. Dengan menggunakan kursi kecil untuk menggantikan kedua kakinya tersebut, Xu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti memberi makan, mencuci, mengganti selimut, bahkan kadang membuatkan sepatu untuk 130 anak yatim asuhannya.

Mengasuh dengan Sepenuh Hati
Sheng Li, salah seorang anak asuh Xu Yueahua menuturkan, bahwa Xu merupakan pahlawan di mata anak-anak penghuni rumah panti asuhan Xiantan. “Tanpa Ibu Besar (panggilan untuk Xu Yuehua), mungkin saya sudah meninggal sejak lama. Suara kursi kecil yang menjadi tanda datangnya Ibu Besar merupakan suara yang terindah yang pernah saya dengar hingga saat ini,” ungkap Sheng Li.

Meski telah memiliki keluarga sendiri Xu tetap merawat anak-anak di panti asuhan di tempat dirinya dulu dibesarkan. “Saya bukanlah orang hebat. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu memberikan kasih sayang seorang ibu untuk anak-anak malang itu,” ucap Xu merendah.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kebahagiaan selalu ada dalam setiap orang yang selalu berpikir positif, berpikir maju dan tidak berkubang dalam penderitaannya.